Senin, 21 September 2009

Apa Salahnya Pernikahan Beda Agama?

Pernikahan beda agama masih dianggap sebagai hal yang sangat dilarang, banyak sekali pertentangan yang terjadi di dalam sebuah keluarga jika ada keluarganya yang ingin menikah tetapi dengan pasangan yang berbeda agamanya. Parahnya, terkadang banyak yang memutuskan menikah dengan beda agama langsung serta merta dihujat dan tidak di anggap keluarga. Apa sih yang salah dengan pernikahan beda agama?


Agama itu sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan. Artinya bahwa agama adalah bisa dibilang adalah alat untuk bersyukur dan menyembah kepada Sang Pencipta manusia yaitu TUHAN. Di samping itu adalah bahwa manusia meyakini adalah kekuatan yang lebih besar dalam mengendalikan dan menciptakan bumi dan segala isinya.


Jadi apapun agamanya sebenarnya punya kesamaan, yaitu menyembah kepada TUHAN YANG MAHA ESA.


Kira-kira bila di umpamakan, jika kita punya satu tempat tujuan misalnya Jakarta, maka masing-masing dari kita akan MEMILIH jalan mana yang menurut kita aman, nyaman, dan kita YAKINI bisa membawa kita ke tempat yang kita tuju. Tetapi tetap, tujuannya sama yaitu Jakarta.


Kemudian manusia. Manusia di ciptakan oleh YANG MAHA KUASA selalu berpasang-pasangan, artinya bahwa setiap orang dari kita sudah punya jodohnya sendiri.


Lalu apakah manusia di ciptakan sudah mempunyai agama? tentu tidak, karena sekali lagi agama adalah sebuah kepercayaan manusia kepada TUHAN, tepatnya sistem kepercayaan. Karena didalamnya terdapat doktrin-doktrin serta peraturan-peraturan yang mengikat setiap anggotanya.


Agama dipilih oleh manusia itu sendiri-sendiri, mana yang menurut dia benar, maka dia akan menjalankan dan meyakini hal itu. Bagaimana dengan yang baru lahir? mereka biasanya tentu mengikuti agama orangtuanya, tetapi jika anak itu merasa tidak nyaman dan tidak sejalan, maka bisa saja dia berpindah. Atau jika anak itu merasa nyaman dan memang meyakini apa yang orangtuanya anut, maka ia akan meneruskan. Intinya ini bergantung kepada orangnya masing-masing.


Bagaimana jika jodoh yang kita temukan ternyata berbeda agama? haruskah kita meninggalkannya? karena bagaimanapun tidak ada yang mau bercerai dan ingin pernikahan terjadi sekali seumur hidup. Kalau orang itu meninggalkan orang yang ternyata JODOHNYA, kemudian mencari yang lain hanya karena ingin sama agamanya, dan tidak bahagia di pernikahannya, apakah ini yang di cari?! jika begini dimana hakikat pernikahan yang seharusnya bisa menjadi tempat bernaung dua insan manusia yang ingin hidup berbahagia dengan orang yang ia cintai?


Seharusnya pernikahan beda agama itu tidak menjadi sebuah masalah, pada kenyataanya banyak yang menikah beda agama dan bercerai bukan karena masalah perbedaan agama tadi. Tandanya ini tidak menjadi sebuah masalah. Pada hakikatnya yang mereka cari adalah sebuah kebahagiaan hidup berdampingan dengan orang yang ia cintai.


Agama adalah "media" manusia untuk menyembah dan bersyukur kepada penciptanya. TUHAN itu SATU. Lalu mengapa kita harus mempertentangkan agama dalam sebuah pernikahan?! karena semua agama sama, mengajarkan kebaikan dan MENGAKUI bahwa TUHAN itu SATU.


2 komentar:

Anonim mengatakan...

Menurut UU No.1 Tahun 1974 ttg prkawinan, Perkawinan mrupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita untuk mmbntuk kluarga yg bahagia brdasarkan hukum agama dan negara yg mrupakan syarat sah perkawinan, prkawinan beda agama tidak dpt brlangsung di KUA di Indonesia,dan tidak dpt dicatat dicatatan sipil. Menurut pandangan Filsafat & Psikologis perkawinan yang baik didasarkan pada niat baik dan keinginan baik mmbentuk suatu kluarga yg utuh, serta mmperbaiki sistem evolusi manusia didunia mnjadi lbih baik dr sbelumnya, Perkawinan beda agama lumrah saja dlakukan jika benar2 brdasarkan cinta dan niat yg tulus, karena jodoh bukan ditakdirkan oleh agama ataupun pemuka agama atw nabi skalipun, semua kembali kepada Tuhan YME, tetapi kita juga harus bijaksana dalam menilai bahwa kita harus memikirkan dampak psikologis dari anak2 hasil prnikahan beda agama, klo tdak ada pngarahan psikologis yg tepat mereka akan tumbuh pribadi yang "kebingungan". semua harus disikapi dengan kebijaksanaan yang baik dan tepat.

[taufanyaki] mengatakan...

terima kasih atas tambahan dari anda, saya sangat menghargainya,
mudah-mudahan dikesempatan berikutnya bisa di bahas dari sisi sang anak,

salam hormat,